Sep 17, 2018

Peer to Peer Lending, Peluang Investasi Baru?

Peer-to-Peer Lending atau dikenal dengan nama P2P Lending merupakan salah satu layanan keuangan yang sedang tumbuh pesat di Indonesia. Data OJK menyebutkan, pertumbuhan jumlah pemberi pinjaman di P2P Lending tumbuh sekitar 603% dan jumlah peminjam sekitar 581%. Apakah ini berarti P2P Lending dapat menjadi peluang investasi baru?

Bagi kebanyakan orang, Investasi merupakan hal asing. Mereka cenderung lebih memilih untuk menabung daripada berinvestasi karena takut risiko yang dihadapai. Padahal, investasi merupakan salah satu cara agar kondisi finansial di masa depan lebih terarah dan terjamin.

Sebenarnya, Anda bisa menentukan investasi apa yang cocok. Hal ini bisa dilihat dari seberapa besar keuntungan yang didapat dan berapa besar risikonya. Apalagi di zaman sekarang sangatlah mudah untuk mencari tahu lebih banyak informasi tentang investasi ini. Salah satunya, mengenai investasi di P2P Lending.

Peer to Peer Lending (P2P Lending) merupakan cara baru memberikan pinjaman, di mana antara pemberi pinjaman dan peminjam dipertemukan dalam sebuah platform online. Peer to Peer Lending (P2P Lending) memungkinkan setiap orang untuk memberikan pinjaman atau mengajukan pinjaman tanpa perlu syarat yang sulit dan proses yang lama, seperti yang selama ini terjadi pada lembaga keuangan tradisional.

Pada dasarnya, sistem P2P Lending ini merupakan peluang investasi baru untuk para investor yang ingin mengalokasikan uangnya ke dalam investasi berupa pinjaman tunai jangka pendek, dan dalam jangka waktu tertentu mereka (para investor) akan mendapatkan imbalan atas uang yang mereka investasikan. Tak hanya itu, sistem P2P Lending juga dapat membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dengan menyediakan akses ke lembaga keuangan, sehingga masyarakat dapat meminjam uang sesuai dengan yang mereka butuhkan dengan cara yang mudah.

Dengan demikian, tak ada lagi gap atau underserved segment, yaitu jurang pendanaan/kredit untuk masyarakat atau Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Menurut OJK, di Indonesia, segmen yang tidak terlayani lembaga keuangan tradisional seperti bank ada sebesar Rp900 triliun per tahunnya. Ini merefleksikan adanya kebutuhan nyata di masyarakat untuk mendapatkan pinjaman dengan cara yang mudah dan tidak berbeblit-belit.

Bagaimana Cara Kerjanya?

Sistem P2P Lending dilakukan dengan platform online sehingga dikelola secara transparan dan efisien, di mana pemberi pinjaman dan peminjam terhubung langsung dalam sebuah wadah atau marketplace. Dalam sistem P2P Lending, terdapat dua pihak yakni pemberi pinjaman dan peminjam, maka cara kerja sistem P2P Lending juga memiliki dua cara berbeda.

Sebagai pemberi pinjaman, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah mendaftar untuk membuat akun sebagai investor. Lalu isi saldo rekening Anda dengan cara transfer. Setelah itu, kelola uang Anda dengan menentukan jenis pinjaman yang ingin dimasukkan ke dalam beberapa produk pinjaman yang disediakan platform. Peminjam pun menerima dana dari Anda, sesuai jangka waktu yang dipilih, Anda pun mendapatkan imbalan atas dana yang dipinjamkan.

Sebagai peminjam, Anda cukup mengisi form aplikasi secara online dan mencantumkan nomor KTP. Kemudian jika pinjaman diterima, pengajuan pinjaman akan dimasukkan ke dalam marketplace yang tersedia agar semua pendana (pemberi pinjaman) dapat melihat pengajuan Anda. Jika disetujui, Anda akan menerima dana langsung ke rekening yang sudah terdaftar di marketplace.

Harus diakui, P2P Lending ini merupakan sarana tepat bagi Anda yang ingin mendapatkan pinjaman pribadi secara cepat. Sebagai investor, P2P Lending ini menjadi sarana untuk mengalokasikan dana sesuai kebutuhan.

Sep 17, 2018
Hubungi Kami
Jika kamu punya pertanyaan lain, kamu dapat menghubungi kami,
kami akan membantumu!
Tetap terhubung dengan kami
Untuk pertanyaan umum
Hubungi Kami
Alamat perusahaan
PT Kas Wagon Indonesia
Oleos 2 Building, Jl. Kebagusan I Kav. 6,
Jakarta Selatan, 12520
Jam Kerja
09:00 WIB - 18:00 WIB
Senin - Minggu
Aplikasi seluler Cashwagon
  1. Layanan Pinjam Meminjam Berbasis Teknologi Informasi merupakan kesepakatan perdata antara Pemberi Pinjaman dengan Penerima Pinjaman, sehingga segala risiko yang timbul dari kesepakatan tersebut ditanggung sepenuhnya oleh masing-masing pihak.
  2. Risiko kredit atau gagal bayar ditanggung sepenuhnya oleh Pemberi Pinjaman. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko gagal bayar ini.
  3. Penyelenggara dengan persetujuan dari masing-masing Pengguna (Pemberi Pinjaman dan/atau Penerima Pinjaman) mengakses, memperoleh, menyimpan, mengelola dan/atau menggunakan data pribadi Pengguna (“Pemanfaatan Data”) pada atau di dalam benda, perangkat elektronik (termasuk smartphone atau telepon seluler), perangkat keras (hardware) maupun lunak (software), dokumen elektronik, aplikasi atau sistem elektronik milik Pengguna atau yang dikuasai Pengguna, dengan memberitahukan tujuan, Batasan dan mekanisme Pemanfaatan Data tersebut kepada Pengguna atau yang dikuasai Pengguna, dengan memberitahukan tujuan, Batasan dan mekanisme Pemanfaatan Data tersebut kepada Pengguna yang bersangkutan sebelum memperoleh persetujuan yang dimaksud.
  4. Pemberi Pinjaman yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman pinjam meminjam, disarankan untuk tidak menggunakan layanan ini.
  5. Penerima Pinjaman harus mempertimbangkan tingkat bunga pinjaman dan biaya lainnya sesuai dengan kemampuan dalam melunasi pinjaman.
  6. Setiap kecurangan tercatat secara digital di dunia maya dan dapat diketahui masyarakat luas di media sosial.
  7. Pengguna harus membaca dan memahami informasi ini sebelum membuat keputusan menjadi Pemberi Pinjaman atau Penerima Pinjaman.
  8. Pemerintah yaitu dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan, tidak bertanggung jawab atas setiap pelanggaran atau ketidakpatuhan oleh Pengguna, baik Pemberi Pinjaman maupun Penerima Pinjaman (baik karena kesengajaan atau kelalaian Pengguna) terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan maupun kesepakatan atau perikatan antara Penyelenggara dengan Pemberi Pinjaman dan/atau Penerima Pinjaman.
  9. Setiap transaksi dan kegiatan pinjam meminjam atau pelaksanaan kesepakatan mengenai pinjam meminjam antara atau yang melibatkan Penyelenggara, Pemberi Pinjaman, dan/atau Penerima Pinjaman wajib dilakukan melalui escrow account dan virtual account sebagaimana yang diwajibkan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi dan pelanggaran atau ketidakpatuhan terhadap ketentuan tersebut merupakan bukti telah terjadinya pelanggaran hukum oleh Penyelenggara sehingga Penyelenggara wajib menanggung ganti rugi yang diderita oleh masing-masing Pengguna sebagai akibat langsung dari pelanggaran hukum tersebut di atas tanpa mengurangi hak Pengguna yang menderita kerugian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
PT. Kas Wagon Indonesia (Cashwagon) adalah Penyedia Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi, resmi terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta telah mendapatkan Sertifikasi ISO : 27001 (Sistem Manajemen Keamanan Informasi) Full scope dari British Standards Institutions (BSI), sehingga pelayanan kami telah memenuhi standar dari lembaga yang telah dikenal secara internasional untuk keamanan informasi.